Jumat, 01 September 2017


Don Hasman Sang Legenda Fotografer Indonesia
 
Ternate-Rumah Pisang Koloncucu 

Jumat, 01 September 2017 di salah satu rumah yang bernama Rumah Pisang Koloncucu yang berada di Kelurahan  Koloncucu Kota Ternate. Hadirlah seorang fotografer terkenal bernama Don Hasman yang akrab disapa dengan sebutan Om Don. Don Hasman adalah seorang fotografer asal Indonesia yang menekuni bidang Etnofotgrafi. Om Don terjun kedalam dunia fotografi selama 62 tahun, yang dimulai sejak tahun 1980an. Awalnya om don belajar memotret di usia 7 tahun dan objek yang diporetnya adalah rumahnya sendiri. Ayahanda dari Om Don telah Meninggal dunia ketika Om Don masih Berusia 2 tahun, sehingga sampai saat ini Om Don belum pernah melihat ayahnya.
Foto Bersama Sang Legenda Fotografer Don Hasman


Dalam suasana diskusi tentang Etnofotografi, Om Don banyak memperlihatkan foto-foto yang terkait dengan aspek suku dan budaya. Menurut Om Don, bahwa Etnofotografi tidak hanya memotret kondisi yang berkaitan dengan budaya-budaya yang ada di pedesaan atau etnis suku, melainkan Etnofotografi juga memotret tentang kehidupan moderen. Om Don menegaskan, jika dalam memotret kemudian memamerkan hasil foto tentang suku dan budaya tertentu diharapkan untuk menampilkan secara rinci yang biasanya disebut disebut oleh Om Don ialah “setiap topik adalah satu kesatuan” yang terdiri dari 3 gambar hingga 7 gambar (foto), yang berarti bahwa foto yang disajikan terstruktur dan memiliki arti kehidupan. Contohnya seperti cara memasak, yang ditampilkan adalah dimulai dari proses pengambilan bahan makanan, diolah, disajikan, dan dimakan, itu yang disebut sebagai satu topik dalam satu kesatuan. 


Foto Bersama Sang Legenda Fotografer Indonesia

Om Don menjelaskan bahwa, tidak banyak yang menekuni dunia Etnofotografi karena bidang fotografi ini tidak laku dijual dan juga Etnofotografi merupakan salah satu bidang fotografi yang tersulit di Dunia. Karena kesuliktannya adalah bagaimana melakukan komunikasi agar bisa dipercaya untuk bisa merekam. Yang diperlukan dalam dunia Etnofotografi adalah waktu. Waktu yang diperlukan tidak hanya setahun atau dua tahun, karena proses penyesuaianya yang lama. Om Don dalam menulis buku tentang Suku Baduy, membutuhkan waktu kurang lebih 43 tahun untuk menyelesaikan penulisannya.
Om Don menegaskan bahwa, Etnofotografi adalah menyajikan faktual, menyajikan apa adanya, dan tidak boleh di bua-buat agar untuk dapat diketahui, warnanya, bentuknya, bagaiman perilakunya, bagaimana sekelompok orang itu melakukan kegiatannya. Yang tersulit/memakan waktu dalam dunia Etnofotografi adalah bagaimana kita menembus wilayah privasi orang/kelompok itu. Om Don mengakui bahwa beliau masuk ke dalam dunia orang Baduy baru bisa diterima dengan baik selama 8 tahun.
Disamping itu, ada beberapa hal yang menarik dari seorang fotografer yang ahli dalam bidang Etnofotografi yaitu pengalaman beliau yang sangat menakjubkan dan sikap beliau yang sangat menginspirasi saya, sopan dan santun, baik hati, komunikatif, dan sangat memotivasi bagi para pecinta fotografer muda.
TERIMA KASIH
OM DON (DON HASMAN) ATAS ILMU FOTOGRAFINYA